Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

diambil dari patriotgaruda.com

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
================================================

“Huuuuuffffhhhh……”

Peter membungkukkan badannya dan menyandarkan dahinya ke meja kerjanya sedikit di depan keyboardnya. Sudah 2 hari dia berusaha menemukan sesuatu yang berarti dari sinyal-sinyal yang direkamnya dari dekoder di ruang lab riset quantum. Hari itu pun dia masih terus berusaha keras meski jam sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Namun semua upaya kerasnya itu terbentur pada keterbatasan sarana. Dekoder tersebut ternyata hanya mampu menerima sinyal sampai batasan frekuensi tertentu. Di samping itu kemampuan algoritma software yang digunakannya juga memiliki keterbatasan pendekatan matematis.
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

“Ah… jika saja aku bisa mengontak Martin….”

Peter teringat akan keponakannya Martin, putra dari kakaknya Alexander, yang memiliki kemampuan pemrograman yang luar biasa. Mereka pernah bekerja bersama-sama dalam suatu proyek penelitian.
Peter untuk menyelesaikan doktoral mikroseismik-nya sedangkan Martin untuk menyelesaikan pemrograman enkripsi sinyal bagi program sarjananya. Di situlah Peter bisa melihat kecemerlangan keponakannya itu.
Selain jago dalam pendekatan matematis dan pemrograman, Martin juga memiliki kepiawaian dalam meretas sistem, baik sistem berbasis jaringan maupun sistem berbentuk file tunggal. Sebagai kenang-kenangan pekerjaan mereka bersama, Peter mengoleksi beberapa skrip “berbahaya” milik Martin yang dapat digunakan untuk meretas sistem.


Sudah 16 bulan Peter tidak bisa mengontak Martin dan siapapun di dunia luar. Semua komunikasi keluar dilarang demi menjaga kerahasiaan proyek yang sedang dikerjakan. Di dalam situ hanya tersedia jaringan intranet dengan extranet yang terbatas. Akses internet keluar dibatasi hanya pada daftar tautan tertentu. Bahkan email dan pesan pribadi pun tidak bisa dilakukan. Peter hanya diijinkan mengirimkan dan menerima rekaman video dari dan ke istrinya sebulan sekali. Itupun rekaman tersebut dibatasi hanya maksimal 10 menit dan Peter tidak diijinkan untuk menceritakan pekerjaannya. Kalaupun dia memaksakan untuk menceritakan tentang pekerjaannya maka dipastikan tim penyaring akan mengedit dan membuang bagian itu sebelum dikirimkan ke Shannon istrinya.

Pekerjaannya memang penuh kerahasiaan karena berhubungan dengan satelit dengan kemampuan khusus. Divisinya “Terra Quark” bertugas menciptakan alat yang bisa memperkirakan kapan terjadinya gempa berdasarkan emisi radioaktif maupun elemen lain yang dilepaskan ke udara menjelang terjadinya gempa. Namun yang tidak dia pahami adalah jika hasil risetnya digabung dengan riset tim Quantum maka satelit tersebut tidak hanya bersifat pasif namun juga bersifat “aktif”. Satelit tersebut dapat melakukan “pemanasan” pada zona gempa sehingga memudahkan terjadinya gempa. Disinilah letak kebingungan dan kekhawatiran Peter. Untuk apa menciptakan sebuah alat yang bisa memancing gempa jika tidak akan dijadikan senjata?

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

Lalu apakah pemancar yang ada di ladang antena diatas bertugas untuk memancarkan gelombang “pemancing” sehingga terjadi gempa? Kemana? Tidak mungkin disini karena Peter tahu bahwa di daerah tempat lab tersebut berada bukanlah zona gempa. Lalu untuk apa memancarkan gelombang seperti itu? Dan jika yang dipancarkan adalah bukan gelombang seperti dugaannya maka apakah yang dipancarkan 2 hari lalu itu? Untuk apa dan kemana? Lalu apakah sebenarnya bentuk “X” atau “Y” yang samar tertangkap oleh antena yang kemudian dikirimkan ke dekoder dan terlihat di siaran TV di ruang lab quantum?

Begitu banyak pertanyaan memenuhi benaknya sampai sebuah suara mengagetkannya.

“Masih terjaga ya?”

Peter menoleh. Di ujung dekat koridor, rekan kerjanya Tawfeeq Al-Fawwaz tersenyum kepadanya sambil berjalan keluar dari arah dapur dengan membawa segelas kopi. Ahli graviti-magnetik berbadan tambun asal Mesir itu memang sangat suka kopi. Sehari-harinya dia mungkin lebih banyak minum kopi daripada air putih. Peter pernah mengingatkan tentang bahayanya kebiasaan itu namun dijawab dengan santai. “Kopi membuatku tetap terjaga sehingga aku bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Tapi, baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk berhenti minum kopi jika bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.” Ketika Peter menanyakan maksud kata-katanya yang terakhir, Tawfeeq bilang dia hanya bergurau dan itu adalah sebuah hiperbolisme. Waktu itu Peter pun menganggap bahwa itu hanya candaan namun kini Peter menduga bahwa sebenarnya ada sesuatu yang serius di dalam kata-kata rekan kerjanya itu dan sepertinya dia tahu suatu rahasia namun tidak berani dikatakannya.

“Yah… begitulah. Kopi tengah malam?”, kata Peter.
Tawfeeq hanya tersenyum, “Keberatan saya bergabung?”
“Tidak sama sekali. Silahkan.”

Sebelum Tawfeeq mendekatinya, Peter menutup layar-layar program yang berhubungan dengan pengolahan sinyal-sinyal “misterius” dari dekoder yang sedang dikerjakannya. Setelah berada di dekat Peter, Tawfeeq menarik kursi yang berdekatan dengan workstation Peter dan duduk dengan santai.

“Mengejar deadline ya?”
“Yah… begitulah.”, Peter tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Dia teringat janjinya dengan Boghdan.
“Saya harap semuanya lancar.”
“Well… kamu tahulah bagaimana pekerjaan. Kadang lancar, kadang ada hambatan. Bagaimana denganmu? Mengejar deadline juga?” Peter berusaha mengalihkan fokus pembicaraan.
“Ah.. tidak. Aku baru saja sembahyang. Setelah kopi ini habis, aku akan mencoba kembali tidur.”
“Setelah meminum segelas kopi yang penuh begitu kamu berharap akan tidur nyenyak setelahnya?”, Peter merasa geli dengan ide itu.
“Hahaha… jika tidak bisa, aku akan memasang headset dan memutar lagu-lagu kesukaanku hingga jatuh tertidur kembali.”
“Ya. Ide itu lebih baik sepertinya. Siapa penyanyi kesukaanmu?”
“Kamu mungkin tidak mengenalnya. Dia Amr Diab, seorang penyanyi Mesir terkenal. Ah… andai saja ada caranya aku bisa mendengarkan radio-radio Mesir, hari-hari disini tidak akan terlalu membosankan. Juga dapat mengobati kerinduanku akan kota Alexandria.”

Peter terkesiap. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. Ya… benar! Mungkin itu solusinya! Aku harus lakukan itu sekarang juga.

Peter segera berdiri dan berpamitan kepada Tawfeeq.

“Terimakasih kawan. Saya harus ke ruang lab quantum sebentar.”
“Apa??? Di jam begini malam? Bukankah mereka semua sudah tidur? Atau ada pertandingan bola yang seru untuk ditonton disana?”. Tawfeeq ikut berdiri. Kebingungan.
“Tidak. Bukan karena itu. Terimakasih telah menemani.”

Peter berjalan bergegas menuju pintu keluar ruangan workstation.

“Apakah ada sesuatu yang salah yang kuucapkan?”

Pada saat itu Peter sudah hampir keluar dari ruangan kerja area workstation mereka.

“Tidak. Sama sekali tidak. Kamu justru telah memberi saya sebuah ide brillian…”
“Ide brillian?”, Tawfeeq semakin bingung. Akhirnya dia hanya mengangkat bahu, duduk kembali dan menghabiskan kopinya sendirian.

Peter sudah meninggalkan ruangan.

*********************

Ternyata ide yang diberikan oleh Tawfeeq benar-benar berguna. Peter pun mampu menemukan jawaban dari misteri sinyal-sinyal aneh yang direkamnya. Peter bahkan menemukan lebih dari sekedar solusi yang dicarinya.
Ide apakah itu dan untuk apakah sebenarnya sinyal-sinyal tersebut dipancarkan?

Sabar ya… jawabannya ada di edisi berikutnya dari serial “dongeng” ini.
Salaam…

By patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar ilustrasi by Google dan Patsus Citox

 http://patriotgaruda.com/2016/01/31/lirik-kuno-navajo-8-sebuah-ide-yang-brillian/


Posting Komentar untuk "Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian"