Beberapa Jenis Gangguan dan Penyakit Pada Organ Telinga Tengah

1. Perforasi membrana timpani

Gangguan ini biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak, cedera ledakan, atau hantaman keras pada telinga. Perforasi yang lebih jarang, disebabkan oleh benda asing ( mis. Lidi kapas, peniti, kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksernus.

Selain perforasi membrane timpani, cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini, jadi, usaha klien untuk membersihkan kanalis auditorius ekssternus sebaiknya dilarang. Selama infeksi, membrane timpani dapat mengalami rupture bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus.

2. Otitis Media Akuta

Yaitu infeksi akut telinga tengah. Penyebab utama pada gangguan ini adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga tengah yang normalnya steril. Paling sering terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran penapasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya ( mis. Sinusitis, hipertrofi, aadenoid ), atau reaksi alergi (mis. Rhinitis alergika ).
otitis media
otitis media
Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisma adalah Streptococcus pneumoniaae, Hemophylus influenza, dan Moraxella catarrhalis. Cara masuk bakteri pada kebanyakan klien kemungkinan melalui tubaeustachii akibat kontaminasisekresi dalam nasofaring. Bakteri juga dapat masuk melalui telinga tengah bila ada perforasi membrane timpani. Eksudat purulen biasanya da dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif.

3. Otitis Media Serosa ( efusi telinga tengah )

Gangguan ini mengeluarkan cairan, tanpa bukti adanya infeksi aktif, dalam telinga tengah. Secara teori, cairan ini sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan obstruksi tuba eustachii.

Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak ; perlu dicatat bahwa, bila terjadi pada orang dewasa, penyebab lain yang mendasari terjadinya disfungsi tuba eustachii perlu dicari. Efusi telinga tengah sering terlihat pada klien setelah menjalani radioterapi dan barotraumas ( mis. Penyelam ) dan pada klien disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi.

Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometric, seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun, dan cairan terperangakp didalam telinga tengah. Karsinoma yang menyumbat tuba eustachii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa uni lateral menetap.

4. Otitis Media Kronik

Yaitu yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrane timpani. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya menyebabkan kerusakan membrane timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hamper selalu melibatkan mastoid.

Sebelum penemuan antibiotika, infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. Sekarang, penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koalesens akut menjadi jarang.

Kebanyakan kasus maastoiditis akut sekarang ditemukan pada klien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tak ditangani. Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam ( epitel skuamosa ) dari lapisan luar membrane timpani ketelinga tengah.

Kulit dari membrana timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat kestruktur telinga tengah dan mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nervus fasialais, kehilangan pendengaran sensorineural dan atau gangguan keseimbangan ( akibat erosi telinga dalam ), dan abses otak.

5. Otosklerosis

Ini mengenai stapes dan diperkirakan disebabkan pembentukan baru tulang spongius yang abnormal, khususnya sekitar jendela ovalis, yang mengakibatkan fiksasi stapes. Lebih sering pada wanita, biasanya bersifat herediter dan memberat karena kehamilan.

Efisiensi transmisi suara dapat terhambat karena stapes tidak dapat bergerak dan mengahntarkan suara dari maleus dan inkus ketelinga dalam. Kondisis ini dapat mengenai satu atau kedua telinga dan muncul sebagai kehilangan pendengaran konduksi atau campuran progresif. Klien mungkin mengeluh menderita tinnitus tapi bisa juga tidak.

Pemeriksaan otoskopik biasanya menemukan membrane timpani yang normal. Konduksi tulang lebih baik dari konduksi udara pada uji rinne. Audiogram akan mengutkan adanya kehilangan pendengaran konduktif atau campuran, khususnya pada frekuensi rendah.


Baca Juga



Mohon sertakan link ini http://www.biologiedukasi.com/2016/11/beberapa-jenis-gangguan-dan-penyakit_19.html
Sekali lagi mohon jika ingin meng-copy paste artikel ini sertakan link artikel ini http://www.biologiedukasi.com/2016/11/beberapa-jenis-gangguan-dan-penyakit_19.html
Previous
Next Post »

mohon untuk tidak meninggalkan live link ConversionConversion EmoticonEmoticon