Ini Dia, Penemu Teknis Ekonomis Pembekuan Sperma Hewan Ternyata Orang Indonesia

Ir. R. Mulyoto Pangestu,
penemu teknik pembeku sperma hewan paling ekonomis
Ir. R. Mulyoto Pangestu, Dip. Agr. Sc, Dosen Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto berhasil menemukan metode pengeringan dan penyimpanan sperma yang sangat berguna bagi para ilmuwan dan dokter di negara berkembang yang kekurangan biaya untuk mengadakan peralatan pendingin. Peralatan cold storage untuk menyimpan bahan organis biasanya membutuhkan nitrogen cair sebagai bahan pendingin (coolant). Selain tangkinya mahal dan makan tempat, nitrogen cair sangat berbahaya. Agar tetap cair, nitrogen jenis ini harus disimpan di bawah suhu minus 196 derajat Celcius.

Hasil temuan Mulyoto justru merupakan cara untuk mengeringkan dan menyimpan sperma dalam suhu ruangan karena ia memakai jasa gas nitrogen. Yang luar biasa temuan Mulyoto ini mengalahkan ratusan pesaingnya dari berbagai negara Asia Pasifik. Bahan yang dipakainya sangat murah hanya sekitar Rp 2.500,-. Bahan yang dipakai adalah 2 lapis tabung plastik mini (ukuran 0,250 ml dan 0,500 ml) yang disegel dengan panas (heat-sealed), kemudian dibungkus lagi dengan aluminium foil. Sperma yang telah dikeringkan di penyimpanan dalam suhu ruang, dapat bertahan bertahun-tahun dalam kondisi prima. Sperma itu dapat dipakai untuk fertiliasi (pembuahan buatan) berikutnya.
Atas hasil penemuan itu Mulyoto meraih penghargaan tertinggi (Gold Award) dalam kompetisi Young Inventors Awards, yang diadakan majalah The Far Eastern Economic Review (FEER) dan Hewlett-Packard Asia Pasifik.

Mulyoto tidak mencoba metodenya itu untuk sperma manusia karena ethics permit yang dimilikinya hanyalah untuk hewan. Sperma yang sudah dikeringkan berasal dari mencit (mice), marmoset (sejenis kera), dan juga wombat (binatang asli Australia). Menurut Mulyoto, yang sudah digunakan untuk pembuahan adalah sperma mencit dan marmoset yang mampu membentuk embrio. Bahkan mencit sudah berhasil melahirkan anak mencit.

Temuan Mulyoto tersebut saat ini sedang dalam proses dipatenkan di Australia. Paten temuan Mulyoto ini nantinya menjadi milik Universitas Monash, namun namanya akan tercatat sebagai inventornya.

Kiprah para ilmuwan Indonesia ini di negeri orang sungguh sangat mengagumkan dengan mendapatkan begitu banyak penghargaan. Seharusnya orang-orang hebat seperti mereka mendapatkan apresiasi di negeri sendiri karena dengan kecerdasan mereka lah nama Indonesia menjadi harum dan diperhitungkan di dunia Internasional.

Masih banyak ilmuwan Indonesia yang saat ini menuntut ilmu dan berkarir di berbagai negara di belahan dunia. Mereka cenderung lebih memilih untuk menjalani kehidupan dengan profesi mereka saat ini sebagai ilmuwan. Beragam alasan mereka untuk tidak kembali ke tanah air, salah satunya adalah peran dan keahlian ilmuwan sangat dihargai di sana. Selain itu kurangnya kesadaran perusahaan di Indonesia untuk berkolaborasi dengan universitas atau lembaga penelitian untuk menunjang riset mereka.  Hebatnya di negara lain juga menyediakan dana riset besar, akses buku dan jurnal penting, serta fasilitas riset yang kondusif untuk inovasi riset dan teknologi. Semoga Indonesia bisa belajar menghargai peran seorang ilmuwan seperti halnya negara lain menghargai kecerdasan ilmuwan sekalipun mereka bukan warganegaranya.
Mohon sertakan link ini http://www.biologiedukasi.com/2014/07/ini-dia-penemu-teknis-ekonomis.html
Sekali lagi mohon jika ingin meng-copy paste artikel ini sertakan link artikel ini http://www.biologiedukasi.com/2014/07/ini-dia-penemu-teknis-ekonomis.html
Previous
Next Post »

mohon untuk tidak meninggalkan live link ConversionConversion EmoticonEmoticon