Pengertian, Patofisiologi, Etiologi, dan Pengobatan Kelainan Presbiopi Pada Mata

Presbiopi

A. Pengertian

Suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.Makin bertambahnya umur maka setiap lensa akan menglami kemunduran kemampuan untuk mencembung. Berkurangnya kemampuan mencembung ini akan memberikan kesukaran melihat dekat, sedang untuk melihat jauh tetap normal.

B. Patofisiologi

Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung.

Dengan meningkatnya umur kaka lensa menjadi lebih keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung,dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat :
  • Kelemahanototakomodasi
  • Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisnya akibat sklerosis lensa.
Pengertian, Patofisiologi, Etiologi, dan Pengobatan Kelainan Presbiopi Pada Mata
Pengertian, Patofisiologi, Etiologi, dan Pengobatan Kelainan Presbiopi Pada Mata

C. Etiologi

  • Tidak jelas diduga merupakan sutu neoplasma radang dan degenerasi.
  • Iritasi korronis oleh suatu debu,sinar ultra violet ( cahaya matahari ) dan angin (udarapanas) yang mengenai kongtungtiva bulbi

D. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dalam menentukan diagnosis pterigium tidak harus dilakukan, karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik kadang sudah dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pterigium. Pemeriksaan histopatologi dilakukan pada jaringan pterigium yang telah diekstirpasi.

Gambaran pterigium yang didapat adalah berupa epitel yang irreguler dan tampak adanya degenerasi hialin pada stromanya.

Pengobatan pterigium tergantung dari keadaan pteriumnya sendiri, dimana pada keadaan dini tidak perlu dilakukan pengobatan, namun bila terjadi proses inflamasi dapat diberikan steroid topikal untuk menekan proses peradangan, dan pada keadaan lanjut misalnya terjadi gangguan penglihatan (refraktif), pterigium telah menutupi media penglihatan (menutupi sekitar 4mm permukaan kornea) maupun untuk alasan kosmetik maka diperlukan tindakan pembedahan berupa ekstirpasi pterigium.

A. Pengobatan

Obat-obatan yang sering digunakan pada kasus pterigium adalah :

Pemakaian air mata artifisial (obat tetes topikal untuk membasahi mata)

  1. Untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air. Obat ini merupakan obat tetes mata topikal atau air mata artifisial (air mata penyegar, Gen Teal (OTC)
  2. Air mata artifisial akan memberikan pelumasan pada permukaan mata pada pasien dengan permukaan kornea yang tak teratur dan lapisan permukaan air mata yang tak teratur. Keadaan ini banyak terjadi pada keadaan pterygium.

Salep untuk pelumas topikal – suatu pelumas yang lebih kental pada permukaan okular. 

Salep untuk pelumas mata topikal (hypotears,P.M penyegar (OTC). Suatu pelumas yang lebih kental untuk permukaan mata. Sediaan yang lebih kental ini akan cenderung menyebabkan kaburnya penglihatan sementara; oleh karena itu bahan ini sering dipergunakan pada malam hari terkecuali bila pasien merasakan sakit dalam pemakaiannya.

Obat tetes mata anti – inflamasi

Untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan pterygia yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada permukaan okular di dekat jejasnya.

Prednisolon asetat (Pred Forte 1%)

Suatu suspensi kortikosteroid topikal yang dipergunakan untuk mengu-rangi inflamasi mata. Pemakaian obat ini harus dibatasi untuk mata dengan inflamasi yang sudah berat yang tak bisa disembuhkan dengan pelumas topikal lain.

Tindakan pembedahan untuk ekstirpasi pterygia biasanya bisa dilakukan pada pasien rawat jalan dengan menggunakan anastesi topikal ataupun lokal, bila diperlukan dengan memakai sedasi.

Perawatan pasca operasi, mata pasien biasanya merekat pada malam hari, dan dirawat memakai obat tetes mata atau salep mata antibiotika atau antiinflamasi.

Pembedahan pterigium dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain :

Teknik Bare sclera

  1. Anastesi : proparacain atau pantokain atau dapat juga menggunakan kokain 4% yang diteteskan maupun dioles dengan kapas pledget, kemudian diberikan suntikan subkonjungtiva dengan lidokain 1-2 % .
  2. Persiapkan duk steril untuk menutupi derah operasi.
  3. Siapkan lid spekulum
  4. Lakukan pengujian untuk menunjukkan otot yang terkait dengan pterigium.
  5. Lakukan fiksasi dengan benang ganda 6.0 pada episklera searah jam 6 dan jam 12.
  6. Posisi mata pada jahitan korset.
  7. Buatlah garis demarkasi pterigium dengan cautery.
  8. Gunakanlah ujung spons atau kapas untuk membersihkan darah ketika sedang dilakukan pengikisan pterigium dari apek dengan menggunakan forcep jaringan.
  9. Laksanakan pembedahan dari kepala pterigium yang ada di dekat kornea mata dengan menggunakan scarifier. Traksi dengan forcep ukuran 0.12 mm akan memudahkan pengangkatan pterigium.
  10. Bebaskan sklera dari pterigium.
    1. Menggunakan westcott gunting untuk memotong sepanjang tanda cautery.
    2. Kikislah pterigium dengan gunting.
    3. Pindahkan semua jaringan pterigium dari limbus dengan menggunakan sharp sehingga tampak jaringan sklera yang telanjang
    4. Jika perlu, mengisolasi rektus otot horizontal dengan suatu sangkutan otot untuk menghindari kerusakan jaringan yang akan membentuk sikatrik.
  11. Pindahkan pterigium dilimbus dengan menggunakan gunting.
  12. Gunakan cautery untuk menjaga keseimbangan.
  13. Menghaluskan sekeliling tepi limbus.
    1. Dengan menggunakan burr intan
    2. Dengan tepi punggung mata pisau scarifier.
  14. Berikan antibiotik dan steroid topikal.
  15. Kemudian tutup mata dengan kasa steril dan fiksasi


Mohon sertakan link ini http://www.biologiedukasi.com/2016/11/pengertian-patofisiologi-etiologi-dan_5.html
Sekali lagi mohon jika ingin meng-copy paste artikel ini sertakan link artikel ini http://www.biologiedukasi.com/2016/11/pengertian-patofisiologi-etiologi-dan_5.html
Previous
Next Post »

mohon untuk tidak meninggalkan live link ConversionConversion EmoticonEmoticon