Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi

DI SUATU WAKTU PADA 20 TAHUN LALU

Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi
“Hey Alex… alat penjejak lokasi ini keren juga”
“Ya dan itu tidak untuk digunakan sembarangan Peter. Simpan itu. Kita sudah selesai disini.”
“Sebentar… sebentar… aku suka pemandangan disini. Aku ingin mencatat kordinatnya.”
“Untuk apa?”
“Karena aku ingin mendatangi lagi tempat ini dan persis melihat pemandangan indah yang ada dibawah.”

Peter menunggu alat itu menunjukkan hasil penjejakannya. Setelah itu dia terlihat mencatat kordinat hasil penjejakan alat tersebut.

“Kamu sudah selesai?”
“Sebentar Alex… aku akan coba 1 kordinat lagi.”


Peter kemudian bergeser agak lebih ke atas dan mengulangi kembali penjejakan serta pencatatan koordinat di tempat tersebut.

“Ah ayolah! Kita tidak ada waktu untuk bermain-main Peter. Masih banyak titik patok yang harus kita catat.”
“Ok… ok… aku sudah selesai. Bergeser sedikit ke arah atas memberikan pemandangan yang lebih indah. Di samping itu, kombinasi angka kordinat di atas mendekati urutan tanggal lahirku.”, kata Peter setelah mendekat.
“Huh! Dasar mahasiswa dan romantisme orang muda! Ayo kita pindah ke lokasi berikutnya.”

Saat itu, sekitar 20 tahun lalu, Alex yang masih bekerja di sebuah kantor pengacara sebagai petugas lapangan, ditugaskan mendampingi suku Navajo dalam kasus protes mereka terhadap rencana pembuatan jalan provinsi yang melintasi area reservasi daerah Pajarito, New Mexico. Meski penugasannya bersifat profesional namun tidak bisa dipungkiri faktor latar belakang Alex sebagai keturunan Indian menjadi salah satu pertimbangan utama penugasan tersebut. Dengan pemahamannya yang baik atas kebudayaan dan bahasa Navajo, Alex tidak menemui banyak kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Khusus untuk masalah pemetaan batas-batas area reservasi, Alex meminta bantuan Peter adiknya yang saat itu masih sedang kuliah bidang kebumian.

==============================================================

“Oke bi… sampai dimana pembicaraan kita tadi?”
“Tentang Indian tua itu?”
“Maksudku pembicaraan sewaktu di rumah tadi.”
“Daftar belanja untuk renovasi galeri Navajo? Atau sebelum para pemindah barang datang?”
“Ah ya… tentang paman Peter dan hal yang sedang dikerjakannya di laboratorium nasional”
“Oh iya itu.” kata Shannon. Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkannya.
“Jadi apa yang sedang dikerjakannya waktu itu.”

“Aku tidak tahu pasti tapi, semoga aku mengingatnya dengan benar,…”, lanjut Shannon, “… Peter pernah mengatakan tentang sebuah satelit yang mampu memecah partikel bebatuan”

Martin terkejut mendengar hal itu. Dia tidak menyangka pamannya akan bekerja dalam sebuah proyek satelit. Apalagi jika satelit tersebut memiliki teknologi perang bintang. Namun dia tidak berkata apa-apa. Dia menunggu penjelasan Shannon selanjutnya. Disamping itu ada hal lain yang juga menarik perhatiannya.

Ketika mereka baru saja melintasi sebuah mobil yang sedang diparkir dipinggir jalan, tiba-tiba saja Martin teringat dengan pesan Nakai akan “mata hitam” yang mengawasi. Mobil Chrysler itu memiliki kaca yang sangat gelap diseluruh sisinya. Tidak ada seorangpun yang turun dari mobil itu dan seperti menunggu sesuatu. Martin teringat dalam suatu kasus yang pernah ditangani ayahnya dahulu dimana ada mobil dengan profil yang serupa juga selalu mengikuti kegiatan ayahnya. Saat itu ayahnya menyadari bahwa dia diawasi sepanjang waktu dan menceritakannya kepada seluruh anggota keluarga, termasuk Martin. Kini Martin pun memiliki perasaan yang sama bahwa mereka sedang diawasi.

“Martin? Kamu masih mendengarkan?”
“Ya..ya…tentu bi. Saya sedang memikirkan seperti apa satelit itu dan untuk apa kegunaannya.”
“Saya pun sering memikirkan hal itu. Yah… apapun yang sedang dikerjakan Peter, saya berharap mereka tetap membiarkannya hidup setelah penelitiannya selesai.” Suara Shannon terdengar murung.
“Kita akan berusaha terus bi. Selama kita belum menemukannya maka harapan itu masih ada.”
“Yah… semoga kamu benar. Terkadang aku merasa semua upaya pencarian ini sia-sia saja.”

Martin hanya terdiam. Setelah upaya pencarian selama 2 tahun yang tidak membuahkan hasil ditambah dengan semua penelusuran petunjuk membentur batu karang, Martin bisa memaklumi apa yang dikatakan oleh bibinya. Siapapun yang berada dalam situasi tersebut dapat dimengerti jika suatu saat mereka merasakan patah semangat.

“Bi… aku tidak tahu apakah ini bisa menjaga harapanmu.”, kata Martin
“Ketika ayahku wafat, dia berpesan kepadaku untuk melakukan yang terbaik dalam menemukan adiknya. “, lanjut Martin.”Semenjak paman Peter hilang, kesehatan ayah menurun drastis karena terus memikirkannya. Keadaan ini diperparah dengan penyakit lamanya yang kambuh dan akhirnya membuat keadaannya tidak tertolong lagi. Aku telah menyanggupi permintaan ayahku itu. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mencari paman. Bahkan jika itu harus dilakukan bertahun-tahun.”

Shannon nampak terhibur dengan kata-kata Martin, “Terimakasih Martin. Bagaimanapun aku harap itu tidak akan memberatkanmu. Meskipun kamu telah berjanji kepada ayahmu, aku harap itu tidak mengganggu kehidupanmu. Bagaimanapun kamu juga punya kehidupan yang harus dijalani.”

“Tidak apa-apa Bi. Ini bukan hanya soal janji dengan ayahku. Tapi lebih dari itu. Hubunganku dengan paman Peter sudah sangat akrab jauh sebelum dia menikah. Bibi tau kan dia yang sangat membantuku sewaktu penelitian sehingga aku bisa memperoleh gelar terbaik di kampusku?”

Shannon mengangguk. “Jadi apa langkah kita selanjutnya? Menurutmu Indian tua itu tahu sesuatu…”

“Kita lihat saja besok bi. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan pada bibi…”. Martin diam sejenak. Dia memikirkan kata-kata terbaik untuk menyampaikan sesuatu kepada bibinya.

“Jangan pernah membicarakan tentang Peter atau upaya pencariannya atau apapun tentang Peter di rumah ataupun di mobilmu dengan siapapun. Tidak dengan saya. Tidak juga dengan anak-anak dan Buck.”
“Kenapa?”
“Entah mengapa… Saya punya perasaan rumah dan mobilmu telah disadap. Dan sepertinya…. selama ini keluargamu selalu diawasi.”
“APAA??? Oleh siapa?”
“Saya belum tahu. Tapi yang penting bibi harus selalu berhati-hati.”
“Ya Tuhan! Kamu tidak sedang mencoba menakut-nakutiku kan? Kamu tidak bercanda kan? Siapa… apa tujuan mereka?”, Shannon yang panik bertanya tanpa henti.
“Sepertinya mereka mencari sesuatu. Dan apapun yang mereka cari belum mereka temukan dan menurut mereka petunjuk itu ada pada keluargamu.”

“Pantas saja selama ini aku memang selalu merasa was-was jika meninggalkan rumah. Itulah kenapa aku memanggil Buck untuk menemaniku dan anak-anak setelah dia lulus kuliah tahun lalu. Disamping karena dia juga belum mendapat pekerjaan, dia bisa sambil membantu aku mengelola kedai dan motel. ”

Hening sejenak sebelum Shannon melanjutkan, “Tapi… petunjuk apa yang mereka cari? Rumah itu baru aku beli setelah pindah kesini dan tidak ada barang Peter yang berasal dari pekerjaannya di laboratorium itu.”

******************************************

Lirik kuno Navajo (3) : Koordinat tersembunyi
Di rumah setelah selesai mengobrol dengan Buck dan bermain dengan sepupu-sepupunya yang jauh lebih muda, Martin beristirahat di salah satu kamar motel yang tidak terisi. Di kamar dia berusaha mengingat kembali lagu yang dibawakan oleh Nakai, si Indian tua itu. Lagu itu hanya beberapa kata namun hampir seluruhnya berubah pelafalannya kecuali satu dua kata saja. Setelah mencatat pola perbedaan pelafalan yang dinyanyikannya, Martin mendapatkan susunan angka yang membingungkan. Dia berusaha memastikan bahwa dia memang tidak salah ingat. Sebagai seorang keturunan Indian Navajo yang memang terkenal kuat dalam mengingat urutan kata, Martin meyakinkan dirinya bahwa ingatannya telah benar.

Apakah ini nomor telepon? Tidak. Pola nomor telepon tidak seperti ini dan ini terlalu panjang.
Apakah ini tanggal lahir? Tanggal lahir siapa? Terlalu aneh. Dan juga terlalu panjang untuk sebuah tanggal lahir.
Jam? Waktu? Tidak. Masih aneh. Masih terlalu panjang.

Apa yang mungkin? Apakah Indian tua itu hanya bermain-main? Atau Indian tua itu tidak mengingat lagunya dengan baik?
Ah.. tidak mungkin. Dia seorang Indian tua yang sangat serius. Dia bahkan tidak sedikitpun pernah tersenyum. Dan tidak mungkin dia salah mengingat lagunya. Seorang Navajo setua itu pasti mengetahui dengan benar lagu-lagu rakyat mereka yang terkenal. Kalaupun dia membuat kesalahan tidak mungkin begini banyak.

Dia memperhatikan pola itu kembali. Seluruh kata itu berubah lafalnya kecuali pada 2 kata yaitu kata kedua dan kata kesepuluh. Kata pertama bergeser 1 lafal, kata ketiga bergeser 6 lafal, kata keempat dan seterusnya Martin memperhatikan 1 per 1 dengan baik. Untuk kata yang digunakan dengan benar, Martin tidak memberi tanda apapun. Dia menyusun angka pergeserannya dibawah lafal lagunya. Sejauh ini pola tersebut dimulai dengan “1 6265 …” dan seterusnya.

Bagaimana jika dia mengganti tanda spasi tersebut dengan “x”? “1×6265 …”? Hmm… apa maksudnya ini? Membingungkan.
Lalu dia menggantinya dengan tanda “-“. “1-6265 …”? Tetap sulit dimengerti.

Sebuah ide terpikir olehnya. Kata yang tidak digeser berarti pergeserannya adalah “0”. Bagaimana jika dia menggantinya dengan kata “0”?
“106265 …”? Akhirnya susunan sebuah angka yang kelihatannya lebih masuk akal. Tapi apakah yang dimulai dengan angka “106…”?

Martin tersenyum. Dia telah melihat pola dari angka-angka itu. Dia yakin angka “106265 …” maksudnya adalah “”106.265″.
Tidak salah lagi, ini adalah data koordinat. Martin teringat dahulu sewaktu pamannya itu membantu mengerjakan tugasnya, data yang paling banyak diberikan kepadanya saat itu adalah data koordinat. Dan dengan melihat pola yang terlihat di awal maka ini seharusnya adalah data koordinat latitude yang berdekatan dengan Los Alamos.

Selanjutnya dia dengan relatif mudah bisa memecahkan maksud urutan angka sisanya. Setelah memecahkan teka-teki tersebut, Martin mencari sebuah titik koordinat dalam peta offline di laptopnya. Benar saja. Programnya menunjukkan suatu tempat di dalam negara bagian New Mexico. Tempat tersebut relatif masih berada di dekat kota Los Alamos. Hey.. sebentar… inikah tempat yang pernah diceritakan oleh pamannya dulu? Apakah benar ini tempatnya? Apakah pamannya berada disini?

Besok dia harus menemui Nakai dan menanyakannya dari mana dia memperoleh informasi koordinat ini. Atau siapa yang mengajarkan lagu yang aneh itu kepadanya. Apakah pamannya ada disitu? Apakah Nakai mengenalnya? Dan yang terpenting… apakah pamannya masih hidup?

Sejuta pertanyaan memenuhi benaknya. Dan dia tidak sabar menunggu hari berganti untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.

=================================================================

Ya baiklah kalau begitu. Kita tunggu saja hari berganti ya. Hehehe…
grin emotikon

Bersambung ke bagian (4)

Inga’… inga’…. inga’…. ini cuma dongeng. Clink!

By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar Ilustrasi By Google dan Patsus Dede Sherman
http://patriotgaruda.com/2015/12/03/lirik-kuno-navajo-3-koordinat-tersembunyi/

Mohon sertakan link ini http://www.biologiedukasi.com/2016/02/lirik-kuno-navajo-3-koordinat.html
Sekali lagi mohon jika ingin meng-copy paste artikel ini sertakan link artikel ini http://www.biologiedukasi.com/2016/02/lirik-kuno-navajo-3-koordinat.html
Previous
Next Post »

mohon untuk tidak meninggalkan live link ConversionConversion EmoticonEmoticon