Genetika, Sub Bab Golongan Darah Manusia

Golongan darah manusia

Golongan darah pada manusia di wariskan ke keturunannya yang tidak akan berubah selama dia hidup. Sistem golongan darah yang paling sering digunakan adalah sistem golongan darah ABO, MN, dan rhesus. Pada dasarnya untuk menentukan golongan darah pada manusia didasarkan pada agglutinin dan aglutinogen

Sistem golongan darah ABO

Sistem golongan darah ABO di perkenalkan oleh K. Landsteiner pada tahun 1900. Sistem golongan darah ABO dikelompokkan ke dalam 4 golongan darah yaitu A, B, AB, dan O.
Golongan
Aglutinogen/Antigen
Aglutinin/Antibodi
A
A
β
B
B
α
AB
AB
-
O
-
αβ

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa sistem penggolongan darah ABO adalah merupakan jenis alel kodominan dimana terjadi ekspresi yang sama kuat antar gen dominan. Alel pada sistem ABO adalah IA, IB, IO. Berikut genotip dari golongan darah
Fenotipe
Genotip
Golongan darah A
IAIA, IAIO
Golongan darah B
IBIB, IBIO
Golongan darah AB
IAIB
Golongan darah O
IOIO
Golongan darah A heterozigot adalah IAIO , begitu juga untuk yang lainnya.
Berikut contoh persilangan untuk golongan darah ABO
persilangan golongan darah ABO
Persilangan pada golongan darah manusia sistem ABO

Golongan darah sistem rhesus

K.Landsteiner dan A.S. Wiener pada tahun 1940 memperkenalkan sistem golongan darah yang diberi nama sistem Rhesus. Sistem Rhesus di bagi menjadi dua golongan darah yaitu Rh positif(Rh+) dan Rh negatif(Rh-). Golongan darah Rh+ memiliki antigen Rh dan golongan darah Rh- tidak memiliki antigen Rh


Gen yang bertanggung jawab untuk golongan darah Rh+ adalah gen dominan R(R besar), sedangkan yang bertanggung jawab untuk pembentukan golongan darah Rh- adalah gen resesif r(r kecil).

Berikut contoh persilangannya
persilangan sistem rhesus
contoh persilangan pada sistem rhesus
Golongan darah Rh+ maupun Rh- dalam darah secara normal tidak akan terbentuk zat anti Rh yang dapat membahayakan seseorang yang memiliki golongan darah tersebut. Tetapi ada beberapa kasus yang membahayakan individu tersebut dimana di dalam darahnya terdapat zat anti Rh.

Kasus yang paling banyak terjadi adalah apabila seorang laki-laki yang memiliki rhesus Rh+ dominan menikah dengan seorang perempuan yang memiliki rhesus Rh-, maka apabila perempuan tersebut hamil dan mengandung janin maka semua janin yang dikandungnya baik kehamilan pertama, kedua,dst akan memiliki rhesus Rh+.
Eritroblastosit fetalis
Eritroblastosit fetalis

Kita tahu bahwa antara janin dan ibu sistem peredaran darahnya terhubung antara janin dan ibu tersebut, sehingga darah janin yang ber Rh+ bisa masuk ke darah ibu yang ber Rh-, masuknya darah janin ke darah ibu yang ber Rh- mengakibatkan darah ibu akan membentuk zat anti Rh untuk menghancurkan sel darah janin yang ber Rh+ yang masuk ke dalam darah ibu.

Darah ibu yang memiliki Rh- yang sudah terdapat kandungan zat anti Rh bisa masuk ke dalam janin saat terjadi suplai nutrisi ke janin lewat darah, masuknya darah ibu yang ber Rh- yang mengandung zat anti Rh bisa merusak sel darah pada janin.

Ini dikarenakan zat anti Rh yang ikut terbawa masuk ke janin akan menyebabkan sel darah merah pada janin mengalami eritroblas yaitu kondisi sel darah merah/eritrosit mengalami kerusakan yang ditandai dengan sel darah merah yang masih muda dan memiliki inti sel, sehingga mengakibatkan pengangkutan oksigen pada janin terganggu.

Pada kehamilan pertama biasanya jumlah anti Rh yang terbentuk tidak terlalu banyak sehingga janin masih bisa hidup, tetapi pada kehamilan ke dua dan seterusnya maka jumlah zat anti Rh akan semakin bertambah banyak, yang mengakibatkan kerusakan pada eritrosi bayi akan semakin banyak, hal ini bisa mengakibatkan kematian. Kejadian ini dinamakan dengan eritroblastis fetalis

Posting Komentar untuk "Genetika, Sub Bab Golongan Darah Manusia"